Saturday, August 8, 2015

Alhamdulillah Kami Menikah


“Saya terima nikahnya Trianawati Nunung Bintari binti Ismangil dengan mas kawin seperangkat alat sholat, Tunai….”

Masih terngiang kalimat sakral itu saya ucapkan berpuluh tahun yang lalu, tepat Hari Jumat tanggal 20 Oktober 1989/ 20 Rabbi’ul Awwal 1410 H sekitar jam 10 pagi,  di musholla sederhana kantor KUA Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Seperti mimpi rasanya, bahwa saya sudah menikah diusia 22 tahun…. Terlebih lagi jika mengenang kembali perjalanan panjang menuju pernikahan yang tak mudah dilalui oleh kami berdua….

Berawal dari kesadaran beragama yang mulai merubah pola pikir saya bahwa menikah diusia muda lebih banyak manfaat dari pada mudharatnya, Saya yang ketika itu mulai memahami tidak ada istilah pacaran dalam islam, maka saya memberanikan diri untuk melamar seorang gadis yang saat itu menjadi kembang di kampusnya….

Hambatan pertama datang dari orangtua saya sendiri, yang tentu saja merasa aneh dengan permintaan anaknya untuk menikah. Masih kuliah, belum bekerja, kok berani-beraninya melamar anak gadis orang, tentu orangtua saya ngga mau menanggung malu jika ditolak lamarannya oleh orangtua si gadis yang anggota pasukan elit Kopassus saat itu….

Terlebih lagi kakak perempuan saya juga belum menikah saat itu, sehingga lengkap sudah alasan untuk tidak mengabulkan permohonan izin saya untuk segera menikah.

Namun Alhamdulillah, dengan terus menerus melakukan dialog dengan kedua orangtua, baik dengan lisan maupun tertulis (saat itu saya masih kuliah di Jogja dan kedua orangtua di Jakarta, maka sebagian dialog dengan orangtua juga saya lakukan via surat berlembar-lembar), maka lambat laun beliau berdua dengan berat hati mengizinkan juga dan berkenan untuk datang melamar kepada orangtua calon pengantin wanita….
Dilain pihak, saya juga memohon ijin kepada Mbak Ancis, kakak perempuan saya, yang sama-sama kuliah di Jogja untuk mendahului menikah. Alhamdulillah saya diberi karunia kakak yang begitu pengertian, sehingga mengijinkan saya untuk segera menikah mendahului dia.

Berbekal kesanggupan bapak dan ibu untuk melamar, maka saya segera kembali beraktivitas di kampus seperti biasa dengan was-was menunggu hasil lamaran pada  orangtua si gadis.

Beberapa waktu kemudian, datanglah surat dari orangtua saya mengenai hasil lamaran mereka…. (ketika itu belum ada Handphone seperti saat ini, sehingga komunikasi paling ditunggu adalah surat via pos).
“Anakku sayang, sebagaimana yang sudah ibu dan bapak janjikan untuk menyampaikan maksudmu untuk melamar Nunung, maka ibu dan bapak sudah melamar ke rumah pak Ismangil beberapa waktu yang lalu dan Alhamdulillaah lamarannya diterima oleh kedua orangtuanya Nunung…” demikian salah satu isi surat panjang ibu kepada saya, yang langsung saya sambut dengan sujud syukur atas kemudahan penerimaan lamaran tersebut, lalu saya teruskan membaca….

“…dan kami para orangtua sepakat agar pernikahan kalian diadakan setelah kalian lulus kuliah…. Oleh karena itu, bla..bla…bla”  sambung Ibu dalam suratnya yang membuat hati risau.

Ellhho…..
Kok masih lama nikahnya?

Perlu diketahui bahwa saya saat itu tengah kuliah di semester VII di Fakultas Teknik Mineral dengan jurusan Teknik Perminyakan UPN Veteran Yogyakarta, yang pada waktu itu terkenal dengan lamanya waktu yang harus ditempuh untuk bisa lulus kuliah. Artinya, walau lamaran sudah diterima, namun belum jelas kapan nikahnya…

Segera saya tulis surat jawaban untuk bapak dan ibu mengenai keberatan saya bila pernikahan kami ditunda untuk waktu yang tidak jelas….
Atas keberatan saya, maka persoalan tersebut dirembug lagi dan disepakati paling cepat 1 (satu) tahun kedepan, terlebih lagi Bapak dan Ibu Ismangil juga sedang mempersiapkan pernikahan Mbak Wiwik, kakak perempuan Nunung.
Saat saya usulkan agar pernikahan kami dibarengkan saja dengan pernikahan kakak, usulan saya tidak disetujui, karena nggak lazim kata mereka…..

Singkat cerita…

Ahad, 15 Oktober 1989
Acara Resepsi pernikahan Mbak Wiwik dengan Mas Agus berjalan lancar dan sukses, bahkan dihadiri juga oleh Wakil Presiden RI yang saat itu dijabat oleh Bapak Umar Wirahadikusuma, ternyata pak Ismangil karena keahliannya dalam penggunaan senjata ditugaskan oleh Kopassus untuk menjadi pengawal pribadi Wakil Presiden RI.

Senin, 16 Oktober 1989 siang,
Saya memberanikan diri untuk menghadap Ibu Ismangil untuk meminta izinnya agar proses pernikahan kami bisa dipercepat.
“Nak Arif, Ibu tidak bisa menjawabnya, nak Arif tanya sama Bapak saja ya…” jawab ibu Ismangil diplomatis.
“baik Bu… Bapak dimana ya?” tanya saya.
 “Bapak masih di musholla, sejak habis dzuhur belum pulang…”jawab ibu Ismangil.

Saya segera bergegas ke musholla yang hanya berjarak 25 meter dari rumah untuk mencari Bapak Ismangil guna meminta perkenannya agar pernikahan kami bisa dipercepat.
Sesampai di musholla, saya bingung….. pak Ismangil sedang tidur dengan nyenyaknya dan masih berkain sarung usai sholat dzuhur.

‘Bagaimana ini baiknya…..’ pikir saya. Saya bingung, satu sisi tidak ingin mengganggu kenikmatan beliau yang sedang beristirahat siang, namun juga tidak ingin pernikahan kami terlambat lebih lama lagi…..

Setelah memantapkan hati sejenak, memohon kekuatan kepada Allah swt, lalu saya beranikan diri untuk menyapa beliau…
“Assalaamu’alaikum…. Pak….” begitu panggil saya perlahan.
Tak ada reaksi dari beliau….
“Pak…..” saya panggil ulang beliau lagi.
Tak ada reaksi dari beliau juga….

‘Apa yang harus saya lakukan?’ pikir saya, ‘apakah saya harus menyerah dan menunggu hingga beliau bangun atau bagaimana?’

Akhirnya saya beranikan diri untuk menghampiri tempat beliau berbaring, dan saya sentuh perlahan sambil memanggil..
“Pak….” panggil saya perlahan
“Hee… ada apa” jawab beliau tanpa melihat saya…
“ini pak, mau minta izin untuk mengurus surat nikahnya Nunung ke KUA”jawab saya sambil berdebar dan berdoa.
“Ya sudah, diurus sana, Mau nikah kapan?”tanya beliau lagi masih tetap berbaring dan tidak melihat saya.
“InsyaAllah hari Jumat pak, terimakasih pak” jawab saya.

MasyaAllah… lancar dan cepat sekali pemberian izin dari beliau….
Tidak saya sangka dimudahkan oleh Allah sedemikian rupa, bahkan dibentakpun tidak.

Hari itu juga saya segera mendatangi pak RT dan pak RW untuk meminta surat pengantar ke Kelurahan, Puskesmas dan KUA pada esok harinya.

Selasa, 17 Oktober 1989
Urusan di Kelurahan dan Puskesmas Alhamdulillah lancar tanpa hambatan.
Di KUA segera saya daftarkan permohonan akad nikah pada petugas yang ada.
Pemeriksaan berkas dinyatakan lengkap, lalu ditanya oleh petugas KUA:
“Ini kapan akan dilaksanakan?” tanya petugas.
“Rencananya kami laksanakan hari Jumat, 20 Oktober 1989 jam 10.00 pagi, di KUA saja pak” jawab saya.
“lho, kok cepat sekali? Biasanya minimal proses tunggu antri 15 hari” ucap petugas KUA.
“Iya pak, kami harus segera kembali ke Jogja untuk Ujian Mid Semester di kampus”jawab saya.
“Oh begitu… bila sudah tidak ada masalah ya nggak apa, kami catat jadwalnya untuk hari Jumat, 20 Oktober 1989 jam 10.00 pagi”jawab beliau.
“ini mau melaksanakan akad nikah diruang mana? Diruang akad seperti biasa atau mau ruang yang lain?”sambung beliau.
“di ruang Musholla KUA saja pak”jawab saya.
“baik, kami siapkan tempatnya besok”jawab beliau kembali.

Kebetulan saya sempat lihat kondisi musholla yang sederhana namun bersih.

Rabu, 18 Oktober 1989
Saya dipanggil oleh pak Ismangil untuk menghadap beliau dirumahnya, lalu saya dan Nunung dihadapkan pada beliau.
Banyak wejangan yang beliau berikan pada kami berdua, namun wejangan yang paling berkesan adalah ‘ancaman’ beliau kepada saya:
“Awas ya….jangan sampai Nunung dikasih makan Batu..!”ucap beliau.

Kamis, 19 Oktober 1989
Saya menghubungi teman-teman dekat saya untuk bisa menghadiri acara akad nikah, karena kami tidak mungkin membuat undangan pemberitahuan pernikahan kami. Dan belum ada Facebook maupun broadcast SMS sebagaimana saat ini.
Nah, Banyak reaksi aneh dan lucu yang saya terima dari teman-teman saat saya menyampaikan pemberitahuan pernikahan ini…., diantaranya sbb :

“Elo nikah sama Nunung?
Waduh… Ini sih ‘anugerah’ buat Elo tapi ‘musibah’ buat Nunung”….

“Beneran Elo nikah sama Nunung? Gila lo, nggak sayang ama umur masih muda?”

Ada juga yang geleng-geleng, lalu pelan-pelan berbisik : "Busyet dah.... Elo nikah karena 'kecelakaan' ya?”
Saya jadi bengong deh……
Rupanya memang masih stigma masyarakat, jika nikah muda berarti 'terpaksa' menikah....

Berbagai peristiwa lucu juga terjadi setelah kami kembali ke Jogja beberapa hari kemudian dan mengabarkan pernikahan kami kepada teman-teman di kampus.
Ada yang terharu dan bahagia…
Ada yang terkejut dan menangis….
Ada yang bingung tak tahu harus bagaimana….
Ada yang tak percaya bahwa kami sudah menikah….
Ah…biarlah…


Jumat, 20 Oktober 1989
Semalaman nyaris tak bisa tidur….
Pagi2 setelah sholat subuh dan mandi, saya segera ke rumah teman dekat saya Sambas Sandarman, saya ajak untuk menghadiri ‘acara penting’ begitu penjelasan saya padanya….
Saya perlu mengajak teman dekat yang tinggal satu komplek untuk mengetahui bahwa saya menikah hari itu….
Sekitar Jam 8 pagi, rombongan dari Cibubur berangkat menuju Cijantung untuk menjemput calon mempelai perempuan dan keluarganya untuk bersama-sama ke KUA.
Sekitar jam 9 pagi, dua keluarga sudah siap untuk bertolak menuju kantor KUA Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Sempat ada dialog antara saya dan pak Tata Anwar, yang nantinya akan menjadi saksi akad nikah kami. Pak Tata menyuruh kami berdua berada dalam satu kendaraan yang sudah disiapkan sebagai kendaraan pengantin, tetapi kami menolak karena belum ijab Kabul.
Sekitar jam 9.30 kami sudah siap di KUA menunggu proses ijab Kabul.
Setelah menyelesaikan tahapan pemeriksaan administrasi, maka….
jam 10 pagi kami menikah……
Sebuah prosesi akad nikah yang teramat sangat sederhana…
Dimulai dengan ta’awwudz, basmalah, dan shawalat Nabi, prosesi teramat sakral yang dihadiri oleh para malaikat itu dimulai….

Bpk Ismangil :”Arif Rahman Hakim bin Machasin….”
ARH :”Saya…”
Bpk Ismangil :”Saya nikahkan kamu dengan anak saya yang bernama Trianawati Nunung Bintari binti Ismangil dengan mas kawin seperangkat alat sholat Tunai…”
ARH :“Saya terima nikahnya Trianawati Nunung Bintari binti Ismangil dengan mas kawin seperangkat alat sholat, Tunai….”
Saksi2 :”SAH…!!!”

Usai prosesi akad nikah, kami semua meluncur menuju kediaman pengantin perempuan, namun kali ini kami duduk berdampingan di dalam mobil pengantin yang membawa kami…. Aneh rasanya.

Sesampainya di rumah, kami sholat sunnah 2 rakaat, lalu saya mendoakan pengantin perempuan dengan meletakkan tangan saya di ubun2nya.
“Ya Allah, aku mohon kepada Mu kebaikan-kebaikannya dan kebaikan kebaikan penciptaannya, dan aku berlindung kepada MU ya Allah atas keburukan-keburukannya serta keburukan-keburukan penciptaannya”

Acara berikutnya adalah sungkeman kepada kedua orangtua dan kedua mertua, memohon doa restu dari mereka semua serta memohon nasehat dari bapak Tata Anwar.
Ada peristiwa lucu saat acara tersebut, karena awalnya antara saya dengan Nunung mengambil posisi duduk berjauhan, ketika diingatkan oleh pak Tata, baru kami sadar, bahwa kami sudah sebagai pasangan suami-istri….   
Pak Tata :”lho….ini penganten masak duduknya berjauh-jauhan… saya jadi nggak enak ngasih tausiahnya…”
ARH :”…wah…iya, Lupa pak kalau sudah nikah…”
Acara tidak berlangsung lama karena waktu sholat jumat segera menjelang…

Sore hari acara tasyakuran dengan mengundang warga satu RT untuk mengumumkan pernikahan kami.

Malam hari acara tasyakuran di Cibubur, dengan mengundang tetangga se RT untuk memberitahukan pernikahan kami….
Ketika acara tasyakuran berakhir dan sampai pada acara memberi ucapan selamat kepada pengantin, saat itulah pertama kali kami mengenalkan pada tetangga-tetangga kami agar yang Bapak-bapak hanya bersalaman dan memberi selamat kepada saya, dan para Ibu-Ibu hanya bersalaman dan memberi selamat kepada Nunung saja….
Walau awalnya mereka merasa aneh, namun karena ini permintaan dari ‘pengantin’, maka mereka mau saja melaksanakannya… Alhamdulillah.

Kami menutup hari bersejarah tersebut dengan penuh syukur, telah dimudahkan oleh Allah untuk melangsungkan akad nikah secara sederhana, tanpa mengadakan acara walimatul ‘ursy sebagaimana layaknya orang-orang yang menikah hingga hari ini. Walaupun begitu, secara syar’i sebetulnya sudah terselenggara walimatul ‘ursy dengan adanya tasyakuran yang mengundang warga RT tempat kami tinggal, sehingga tujuan utama acara Walimatul ‘Ursy yang bermaksud bersuka cita dan mengumumkan peristiwa pernikahan sudah terlaksana.

Terkadang kami tersenyum sendiri saat mengingat betapa sederhananya pernikahan kami.
Pernikahan yang diselenggarakan secara superkilat, hanya 5 (lima) hari setelah acara pernikahan mbak Wiwik. Jangankan membuat undangan manten, souvenir pernikahan maupun foto prewedding, semua persiapan dilakukan apa adanya, bahkan pakaian yang kami pakaipun tak sempat membuat khusus untuk acara special tersebut.
Jas dan sepatu pengantin pria adalah pinjaman dari Bapak saya yang kebetulan ukurannya tidak jauh berbeda.
Busana pengantin wanita adalah pinjaman dari kakaknya

Terkenang juga saat pertama kali mengenal sosok Nunung. Nunung adalah adik kandung dari mbak Endang Pratiwi yang biasa dipanggil mbak Wiwik, kakak kelas saya disekolah dan kami sama-sama aktif di Pramuka. Walau 1 (satu) tahun berteman dan beraktivitas Pramuka bersama, saya tidak mengenal adik-adik mbak Wiwik. Baru pada saat penerimaan siswa tahun ajaran baru, ada sedikit kehebohan diantara teman-teman Pramuka, khususnya yang putra, ramai membicarakan adik-adik kelas mereka.
“Rif…sini, tuh adiknya mbak Endang Pratiwi, cakep ya…”kata seorang teman pada saya sambil menunjuk anak perempuan kurus, berambut panjang namun tomboy tak alang kepalang.
Kala itu saya menanggapi rekan saya dengan acuh dan berkata : “Ah…biasa aja kok, cakepnya dimana sih…”
He he he…. Siapa sangka kelak jadi suaminya….



Ada beberapa hikmah yang bisa kami petik dalam peristiwa ini :
-       Ketika kita sudah bertekad untuk berbuat kebaikan, insyaAllah jalan-jalan menuju kebaikan itu akan segera terbuka meski ada sedikit hambatan pada awalnya.
-       Bersegera menikah ketika sudah diberi kesempatan untuk menikah, tak perlu menunggu berbagai persiapan yang tak akan ada habis-habisnya.  Biasanya banyak yang menunda pernikahan dengan alas an : menunggu lulus kuliah, menunggu sudah bekerja, menunggu pekerjaan mapan dulu, menunggu punya rumah, menunggu punya mobil, dst…dst…

-       Menikah diusia muda luarbiasa rasanya….


#KisahInspiratif #CeritaKeluarga


kisah inspiratif,cerita inspiratif,cerita inspirasi,kisah inspirasi,kisah kisah inspiratif,inspiratif,kumpulan kisah inspiratif,kisah kisah inspirasi,kumpulan cerita inspiratif,kisah2 inspiratif,kumpulan cerita inspirasi,cerita cerita inspiratif,kumpulan kisah inspirasi,kisah2 inspirasi,cerita cerita inspirasi,cerita inspirasi terbaru,cerita kisah inspiratif,kisah inspiratif anak,kisah inspirasional,inspirasi cerita,cerita inspiratif terbaru

0 comments:

Post a Comment