Suasana Idul Fitri semenjak Ayahanda tiada memang selalu terasa ada yang kurang, namun tetap meriah karena kami semua ingin agar Ibunda tak merasa kesepian. Saat-saat kebersamaan seperti inilah terkadang ada beberapa kejutan yang tak diduga yang dimunculkan oleh ibunda, biasanya beliau bercerita hal-hal yang terjadi saat kami kecil dahulu, baik peristiwa yang kami ingat maupun peristiwa yang tidak kami ingat saat kecilnya kami dahulu. Ada cerita yang membuat kami terbahak-bahak jika peristiwanya lucu dan aneh. Ada juga cerita yang mengharukan sehingga membuat kami memeluk Ibu dengan penuh haru.
Ibunda pernah bercerita saat-saat menjelang kelahiran saya 48 tahun yang lalu, yaitu saat Kakek saya Dahlan Siswomintarjo Almarhum pada pagi hari sebelum saya lahir bercerita sebagai berikut :
Kakek :”Mau mbengi aku ngimpi oleh Jago gagah nemen, wulune abang, ireng karo kuning. Iki mesti arep lahir putuku lanang sing sesuk arep dadi pemimpin”.
Ibu :”Aamiinn”
Orangtua saya sendiri juga berharap mendapatkan bayi laki-laki, karena kedua kakak saya sebelumnya adalah perempuan.
Ketika itu memang belum dikenal istilah USG untuk memperkirakan jenis kelamin bayi, sehingga setiap orangtua hanya bisa pasrah saja dengan karunia Allah berupa kelahiran, mau dapat anak laki-laki atau anak perempuan tak masalah.
Pasca Idul Fitri 1436 H, ditengah kesibukan menyiapkan prosesi pernikahan anak kedua saya M. Ghozy Ulhaq yang dilaksanakan di Jakarta, Ibunda juga ‘mengeluarkan’ dokumen bersejarah berusia puluhan tahun yang menyertai peristiwa kelahiran saya.
Dokumen yang berupa surat bertuliskan tangan Ayahanda tersebut sudah berwarna kecoklatan akibat telah usang dimakan usia. Pada surat yang tertera tanggal 7 Mei 1967 secara jelas tertulis sejarah pemberian nama untuk bayi kecil yang kemudian diberi nama Arif Rahman Hakim.
Secara lengkap, saya tuliskan kembali dokumen yang telah berusia hampir setengah abad tersebut sebagai berikut :
Panorama, 7/5 ‘67
Assalaamu’alaikum wr wb
Adinda!
Saja utjapkan sjukur Alhamdulillaah kepada Tuhan J.M.E. atas kurnianja memberikan kepada kita seorang momongan lagi. Dan tepat/sesuai dengan harapan kita jaitu seorang anak laki2. Djuga saja utjapkan selamat kepadamu adinda jang telah melahirkan anak laki2 dg selamat tak ada halangan suatu apa, Alhamdulillaah
Telah lama saja pikir2, akan diberi mana siapakah anak kita itu kalau laki2. Setelah menimbang2 lama, maka sampailah pada ketetapan hati untuk memberikan nama kepada anak kita :
ARIF RAHMAN HAKIM
Sesuai dgn nama pahlawan ampera jg telah gugur di Djakarta pertama kali. Semoga kelak mempunjai sifat2 kepahlawanan seperti almarhum. Amin!
Tgl 5/7 ‘67 pagi saja bersama2 teman2 berangkat ke daerah Subang untuk mengadakan latihan perang2an. Semoga selamat.
Hari Kamis 11/5 -67 kembali. Setelah selesai latihan segera saja akan pulang kemari.
Adapun mengenai biaja bersalin saja usahakan semaximal2nya dan insyaAllah pasti berhasil.
Pelantikan kira2 tgl 17/5 atau mungkin tgl 22/5 -67 . Sesudah itu ada kursus aplikasi di Bandung lagi, lamanja tidak 3 bulan, tapi mungkin hanya 3 minggu.
Dimanakah adinda bersalin? Memanggil bidan atau dirumah sakit? Bagaimana Inung dan Antjis?
Salam katur Ajah – Ibu
Wassalaam
Kanda
Machasin
Wah…. Ternyata sikap Ayah kepada Ibu saya romantis sekali ya, terlihat pada suratnya yang luarbiasa di atas.
Dari surat tersebut juga saya baru melihat dokumen sejarah penamaan saya. Dulu Ayah memang pernah bercerita soal sejarah pemberian nama buat saya, namun saya tidak menyangka bisa menemukan bukti dokumen otentiknya.
Jakarta, 16 Agustus 2015


0 comments:
Post a Comment