Saturday, August 8, 2015

Anakku Kecanduan Main Game 1

sumber : google

Anak Bapak Tidak Ada...
Suatu malam, di awal tahun 2004, kami sekeluarga meluangkan waktu untuk menengok anak laki-laki kami yang duduk di SMP kelas IX dan tinggal di asrama sebuah sekolah swasta yang cukup ternama. Sudah sebulan kami sekeluarga tidak bertemu dengannya. Dengan membawa sedikit oleh-oleh makanan kesukaan anak kami, sekitar jam 8 malam kami memasuki kompleks sekolah berasrama tersebut untuk mencari anak kami.

Segera kami menghadap kepada ustadz piket untuk meminta izin bertemu dengan anak kami.
“Assalaamu’alaikum wr wb, Ustadz, kami mohon izin untuk bertemu anak kami sebentar”, ucap kami kepada ustadz piket saat itu.
“Wa’alaikumussalaam. Baik pak, mohon tunggu sebentar akan kami panggilkan”, jawab ustadz piket.
Ustadz piketpun segera berlalu untuk memanggilkan anak kami.
Waktu berlalu beberapa lama, namun sang ustadz belum juga kembali membawa anak kami….
Setelah menunggu cukup lama, barulah sang ustadz muncul kembali dari arah yang berbeda dengan saat perginya, namun tanpa disertai anak kami.
“Maaf bapak dan ibu, anak bapak/ibu tidak ada di kamarnya dan juga tidak ada dilingkungan sekolah…. Ini sedang dicari juga oleh teman-temannya”, kata Ustadz tersebut.
Saya terkejut…..
‘Bagaimana mungkin anak kami tidak ada di sekolahnya dan ustadznya juga tidak tahu dia dimana? Apa yang terjadi?’ pikir saya.
Setelah ditunggu sekian lama anak kami belum juga ketemu, maka kamipun mohon izin untuk pulang dengan hati gelisah.
“Ustadz, kami mohon pamit saja, kami mohon waktu besok kembali ke sekolah untuk membicarakan masalah ini”, ujar kami

Ternyata Main Game
Keesokan harinya saya datang kembali ke sekolah untuk membicarakan masalah ‘hilangnya’ anak kami dari asrama.
Ternyata anak kami semalam bersama dengan beberapa rekannya menyelinap dari asrama dan bermain game online disalah satu game center yang tidak jauh dari sekolahnya.

Sedih? Tentu…
Segera kami panggil anak kami dan kami nasehati panjang lebar…. Bla bla bla…
Anak kami itupun diam tertunduk dan berjanji tidak akan mengulang kembali.
Selesai? Belum….

Dia Tidak Pulang
Beberapa bulan kemudian, setelah usai kelulusan SMP dan memasuki waktu libur cukup panjang menunggu masuk SMA, untuk mengisi waktu liburan, suatu pagi anak kami yang sama minta izin untuk berkunjung dan menginap ketempat sahabatnya di daerah seputaran Kota Gede, tentu saja kami izinkan.
Hingga malam, anak kami belum pulang…. Bagi kami tak masalah, karena kami tahu, bila sudah bersama sahabatnya sejak kecil tersebut, mereka sering menginap bergantian dirumah teman-teman mereka.
Namun kami punya kebiasaan menanyakan kabar anak-anak ketika mereka menginap kepada orangtua sahabat mereka yang juga kami kenal.

“Assalaamu’alaikum tadz, bagaimana khabarnya?”, sapa saya
“Alaikumussalam wr wb, baik pak”, jawab beliau
“Anak saya masih ada disitu tadz?”, tanya saya
“wah…nggak tahu ya, ane baru pulang juga nih, coba ane panggil anak ane”, jawab beliau
setelah anaknya dipanggil dan telepon pindah tangan,
“mas, anak saya masih disitu?”, tanya saya
“sudah pulang kemaren sore kok pak, nggak jadi menginap”, jawab sahabat anak saya,”memangnya belum pulang?”, lanjutnya.
“belum mas, kemaren apakah ada pesan dia mau pergi kemana?, tanya saya kembali
“nggak ada pesan pak”, jawabnya.
“Oh…gitu, ya sudah mas, terimakasih ya…”, saya sudahi percakapan tersebut.

Saya bingung, kemana anak saya? Apakah main kerumah temannya yang lain? Ataukah ada kondisi darurat yang terjadi sehingga anak saya tidak bisa memberi kabar kerumah? Bila ada kondisi darurat, pasti dari Rumah Sakit atau Kepolisian akan ada yang datang kerumah memberitahu, demikian dialog dalam diri saya.

Ketika hingga malam datang anak tersebut belum juga pulang, saya makin khawatir atas keberadaan anak saya. maka saya ajak bicara dari hati ke hati, anak saya yang lain yang selama ini memang dekat dengannya dan usianya juga tidak terpaut jauh dengan anak saya yang belum pulang tersebut.

“Mas, ini saudaramu belum pulang sejak 2 (dua) hari yang lalu, kira-kira kemana ya, apakah dia pernah cerita-cerita sesuatu hal yang bisa diperkirakan keberadaannya dimana? menurut pendapatmu bagaimana?”, demikian saya memulai obrolan saya.

Hasil diskusi memutuskan besok akan ditelusuri beberapa tempat favorit yang disukai oleh anak saya, siapa tahu, di salah satu tempat, dia juga berada disana.

Anakku Pulang
Selepas waktu ashar, anak-anak kami pulang kerumah…. Alhamdulillah…

Setelah mereka makan dan beristirahat sebentar, mulailah saya bertanya apa yang terjadi kepada mereka berdua.

Berceritalah anak saya yang bertugas mencari, bahwa dia menemukan saudaranya itu di lokasi Game Center yang terletak disekitar Monumen Jogja Kembali, 30 km dari rumah kami.
Lalu terjadilah dialog antara saya dengan anak saya yang 2 (dua) malam tak pulang itu :
Saya : “Jadi kamu tidur 2 malam di Game Center mas?”
Anak : “Iya bi…..”, jawabnya sambil menunduk takut
Saya : “Kamu Sholatnya bagaimana selama disana?”
Anak : “Lokasinya dekat masjid Bi, jadi setiap habis adzan aku langsung sholat berjamaah”
Dalam hati saya, saya bersyukur bahwa anak saya tetap tidak melupakan sholatnya walau keranjingan Main Game.
Saya : “Makanmu bagaimana?”
Anak : “di Game Center ada jualan makanan ringan dan bisa bikin mie instant, bi”
Saya : ”Mandinya bagaimana?”
Anak : “ nggak mandi Bi, ruangannya pakai AC, jadi nggak terasa keringetan…”
Kami terdiam sebentar, lalu saya teruskan…
Saya : “kamu tahu salahmu dimana?”
Anak : “Tahu Bi…. Aku main Game nggak inget waktu dan tanpa izin Abi dan Umi”
Saya : “Masih ingat, hukumanmu apa jika melanggar seperti ini?”
Anak :” iya Bi…”
Saya : “Bersedia kamu dihukum?”
Anak :”…Iya Bi, aku salah…” jawabnya pasrah….. 

Menghukum Anak
Sebelumnya kami memang punya kesepakatan yang kami buat bersama saat anak kami tersebut melakukan kesalahan yang sama beberapa bulan yang lalu, hanya saja pada waktu itu tidak sampai menginap, namun berjam-jam terus menerus bermain game online, yang kami anggap sudah termasuk kecanduan main Game.

Walaupun sebetulnya tak tega, akhirnya saya menghukum anak tersebut sesuai kesepakatan yang pernah kami buat, disaksikan oleh Uminya yang berurai air mata karena tak tega melihat anaknya dihukum oleh saya.

“Umi sebetulnya tak tega melihat anak yang umi kandung 9 bulan dengan penuh kasih saying dan susah payah dihukum oleh Abi, tapi Umi tahu, bahwa Abi melakukan hal yang memang harus dilakukan untuk menyembuhkan anak kita dari kebiasaan buruknya itu…”, demikian curhat istri saya setelah itu.

Alhamdulillah, pasca kejadian tersebut, anak kami jauh lebih terkendali dalam melampiaskan kesukaannya bermain Game Komputer.
Saya sendiri pada dasarnya tidak melarang anak-anak kami untuk bermain Game Komputer, asalkan tetap dalam kewajaran, tetap memperhatikan kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan, tetap membantu pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan dirumah, dsb.

Beberapa Hikmah :
1.     Anak tetap boleh menemukan kesenangannya, asalkan tetap bertanggungjawab.
2.     Bila anak bersalah, biarkan dia menyadari dimana kesalahannya sehingga dia bisa menyesali apa yang sudah dia perbuat.
3.     Tegakkan hukuman sesuai kesepakatan yang telah dibuat agar si anak tidak menganggap hukuman tersebut hanya macan ompong saja.
4.     Harus satu visi antara Ayah dan Ibu tentang cara mendidik dan menghukum anak, jangan sampai Ibu melarang Ayah menghukum anak karena berbeda cara mendidik anak.



kisah kisah,kisah inspiratif cinta,cerita motivasi kehidupan,cerita inspirasi hidup,kisah nyata inspiratif,kisah inspirasi hidup,inspirasi kehidupan,cerita cerita motivasi,kisah inspiratif motivasi,cerita inspirasi kehidupan,kisah cerita,cerpen inspiratif,kisah cinta inspiratif,cerita pendek inspiratif,inspirasi sukses,cerita kisah

0 comments:

Post a Comment