Saturday, August 8, 2015

Komunikasi dalam Rumah Tangga


Berita Dari Rumah

“Rrrr…. Rrrrr…. Rrrr….”
Telephone genggamku bergetar lembut pertanda ada panggilan masuk…. Kulihat sekilas… dari rumah di Bantul…. Tak biasanya dari rumah telpon jam segini….
Saat itu sekitar jam 14 siang, aku sedang mengikuti rapat disalah satu kementrian di Jakarta, pasti ada yang cukup penting…
Sambil bergeser keluar ruangan rapat, ku angkat telephon…ternyata dari istriku tercinta…
Umi : “Assalaamu’alaikum bi…”
Abi : “Alaikumussalaam… ada apa sayangku?...” (terdengar suara isak tangis dibelakang suara istriku…)
Umi : “ini bi, Himmah mau minta izin untuk berbuka puasa…. Hari ini hari kedua puasa sehari penuh…. Tadi udah umi bujuk-bujuk untuk diteruskan, tapi Himmah nggak mau, sekarang Himmah mau bicara sama Abi mau minta izin buka puasa….”
Sekedar info, Himmah adalah anakku nomer 8 yang saat itu berusia 5 tahun dan sedang belajar puasa sehari penuh di bulan Ramadhan….
Kami memang terbiasa mengajarkan anak berpuasa penuh sejak mereka masih berusia 5 tahun, bahkan anakku Muhammad Asad belajar puasa sehari penuh sejak berusia 4 tahun….
Telephone pindah ke Himmah…
Himmah : “hu hu hu…..” (suara tangisnya sudah terdengar terlebih dahulu…)
Abi : “Assalaamu’alaikum Himmah sayangku…..”
Himmah : “Hu hu…wa alaikum salaam….hu hu … Abi….”
Abi : “iya sayangku…. Ada apa? Kenapa menangis?”
Himmah : “ abi…aku minta izin buka puasa ya….” (sambil sesenggukan…)
Abi : “Oooh… Himmah lapar ya?”
Himmah :”iyaa…”
Abi :”Wah…tadi sahurnya cuma makan sedikit trus banyak main ya nak?”… (tanyaku untuk mengulur waktu mengambil keputusan…..)
Himmah :”iya bi…” masih sesenggukan….
Abi :”Himmah hebat ya, bisa puasa sampai jam 2 siang…..” kalau temen2nya Himmah pasti sudah pada buka puasa pas bedug ya…” (ku puji kehebatannya)
Himmah :” Iya bi…. Temen2 ku ada yang nggak puasa juga…. Trus pada makan di sekolah”…. (Masih ada sedikit tangis dalam nada suaranya)
Abi :”Wah…kalau gitu Himmah hebat sekali….”
….”Himmah sekarang lapar sekali ya?” (tanyaku retoris)…
Himmah :”iya….” (suaranya memelas…)
Abi:” Himmah sudah pernah diceritain Ummi bahwa ada pintu syurga untuk ahli puasa yang namanya pintu Ar Royyan?”
Himmah :”sudah bi…”
Abi :”wah… pasti senang sekali ya kalau bisa masuk syurga lewat pintu Ar Rayyan itu….” (bujukku)
Himmah :” iya bi….tapi aku lapar sekali…” lanjutnya.
Abi:”Iya ya…. Jam segini pasti sudah lapar sekali ya…”(aku mencoba memahami rasa laparnya).
“Kira-kira kalau sampai maghrib nanti, Himmah anak abi yang cantik dan hebat ini nggak usah main-main dulu, bisa kuat nggak nahan laparnya…? “
Himmah :”…… (diam sebentar)… bisa bi…”
Abi:” Alhamdulillah….anak abi yang cantik memang hebat…. Abi doakan semoga Himmah nanti bisa bersama-sama para ahli puasa masuk syurga melalui pintu Ar Rayyan ya… Aamiin… sekarang Heponya kasih ummi lagi ya…”
Ummi :”bagaimana bi?”
Abi :” Alhamdulillaah, sudah beres, insyaAllah diteruskan sampai magrib puasanya”

Peristiwa di atas dengan berbagai macam variasinya pasti dialami oleh setiap keluarga muslim yang sedang melatih anak-anak mereka berpuasa sehari penuh. Ada yang melatih anak-anak mereka berpuasa sehari penuh saat usia SD kelas 4, kelas 5 atau bahkan usia SMP, namun kami sekeluarga melatih mereka saat mereka masih dibangku TK. Diawali dengan berbagai macam penguatan mental dan semangat berpuasa terlebih dahulu, kemudian dilatih puasa setengah hari di awal-awal Ramadhan, atau berselang seling hingga akhir Ramadhan sudah kuat berpuasa sehari penuh….

Perlunya Komunikasi
Ada hal penting yang kadang diabaikan oleh para orangtua saat mendidik anak-anak mereka untuk melakukan suatu kebaikan atau ibadah, yaitu Menjalin Komunikasi dengan anak.
Seringkali orangtua hanya berbicara satu arah tanpa mau tahu keinginan anak, sehingga kalaupun anak patuh saat itu pada orangtua, lebih karena takut dimarahi daripada karena paham mengapa harus melakukan hal itu….
Komunikasi yang baik akan menghasilkan empati antara kedua pihak, sehingga saling menghargai dan menghormati kondisi kedua pihak yang berkomunikasi.

Menghargai Usaha Anak
Dalam kasus mengajarkan puasa, anak akan merasa dihargai saat orangtua juga merasakan “penderitaan” si anak yang kelaparan…. Bukan mengejek atau men-judge si anak tidak tabah atau tidak kuat rekoso….

Hargai juga saat anak berhasil melampaui masa-masa kritis ibadahnya, sehingga menjadi besar hatinya.

Dalam kasus diatas ada hal unik, dimana sang Ibu meminta izin dahulu kepada sang Ayah saat sang anak mau membatalkan puasanya, komunikasi antar Ayah dan Ibu ini penting, agar jangan sampai ada diantara kedua pihak antara ayah ataupun ibi yang tidak tahu perkembangan pendidikan anak mereka, khususnya pada hal-hal yang sudah disepakati cara penerapannya.
Komunikasi antara sang Ibu sebagai pelaksana tugas pendidikan anak dengan sang Ayah sebagai pembuat system kurikulum pendidikannya….

Semoga manfaat

*ditulis dalam rangka pembuatan buku RKI Jogja



kisah kisah motivasi,cerita inspirasi cinta,cerita motivasi inspirasi,cerita motivasi terbaru,cerpen inspirasi,kumpulan kisah,kisah motivasi kerja,kisah nyata inspirasi,cerita menginspirasi,kisah inspirasi cinta,inspirasi motivasi,cerita inspiratif kehidupan,artikel inspiratif,cerita motivasi anak,artikel inspirasi,cerita inspirasi motivasi

0 comments:

Post a Comment