Friday, August 14, 2015

Anakku Kecanduan Main Game 2




Memiliki anak banyak ternyata membutuhkan seni tersendiri untuk mengelola dan mengarahkan mereka, karena setiap anak memiliki karakter dan ciri khas yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Namun diantara perbedaan-perbedaan yang ada, mereka juga memiliki beberapa hal yang sama. Misalnya hampir semua anak senang main Game, baik game computer, game online, gamebox maupun berbagai game yang tersedia di area Game Center di pusat-pusat perbelanjaan, terlebih khusus anak laki-laki, dari game yang ringan hingga game yang berat. Dari game yang sederhana hingga game yang rumit tak mudah dipahami. Ada ribuan program game yang tersedia diluar sana, baik yang gratis maupun yang harus mengeluarkan dana jutaan untuk membelinya.

Sebetulnya, persoalan anak main game bukanlah persoalan serius, hampir setiap anak melakukannya, bahkan banyak orang dewasa yang masih gemar bermain game diperangkat gadgetnya, baik di personal computer, laptop, Tablet bahkan smartphonenya. Ada beberapa sisi positif bermain Game bila waktu bermain dan jenis permainannya dikelola dengan baik, antara lain dapat mengukur kecepatan terhadap refleks, perhitungan dan strategi, menambah kegembiraan, bahkan ada juga game-game yang mengasah otak dan kecerdasan saat bermainnya.

Namun sebaliknya, tak terhitung banyaknya jenis permainan Game yang sangat merusak, membuat anak sangat kecanduan, membuat mereka enggan bergerak secara fisik, membuat mereka enggan bersosialisasi dengan orang lain atau a-sosial,  menanamkan ideology berbahaya semacam LGBT dialam bawah sadar mereka, mengandung unsur pornografi dari ringan hingga berat, mengajarkan kekerasan fisik dan seksual, dll.

Keseringan bermain game akan membuat kaburnya batasan antara kehidupan nyata dan kehidupan maya dalam dunia game.
Ada banyak fakta kekerasan yang dilakukan oleh seorang anak kepada teman-temannya yang ternyata dipicu dari kebiasaannya bermain game yang menonjolkan sisi kekerasan dan perbuatan sadis.

Anak-anak yang sedari kecil terbiasa bermain game pertarungan yang sadis dan penuh kekerasan, dalam kasus tertentu akan menganggap bahwa aksinya memukul teman-temannya adalah aksi yang ‘heroik’, bahkan ketika teman yang dipukul mengeluarkan darah, dia bisa semakin senang.

Dia juga tak bisa memahami bahwa jika dipukul itu menyakitkan, karena saat dia bermain game dan dipukul oleh musuhnya, dia tidak merasakan sakit. Dan dia juga menganggap bahwa jika ‘mati’ alias ‘game over’ nanti bisa hidup lagi dengan mudah.

Suatu saat, anak kami yang lain lagi ada yang kami lihat memiliki tanda-tanda keranjingan Game dan mulai melalaikan tugas-tugasnya. Hanya saja tipologi anak ini berbeda dengan saudaranya yang terdahulu. dan kecanduan game-nya belum separah saudaranya yang terdahulu.
Peristiwa ini terjadi saat anak tersebut berada di SMA kelas XI.
Berkali-kali kami sudah memberi nasehat pada anak kami betapa kesukaannya terhadap main Game yang berlebihan tersebut tidak baik untuknya, dan nanti akan berdampak kepada prestasi akademiknya yang akan menurun, namun semua nasehat itu hanya masuk telinga kiri dan keluar ditelinga kanan saja tampaknya.
Saking jengkelnya, ketika anak tersebut pergi sekolah, semua game yang ada di personal computer yang biasa mereka gunakan, saya hapus dan uninstall semua. Kebetulan saya agak paham bagaimana proses install dan uninstall program di Komputer.
Tapi besoknya sudah di install kembali oleh mereka…..
Mereka terkadang menginstall game yang rumit, jadi ada beberapa permainan Game yang instalasinya rumit sekali, sehingga saya juga tidak tahu bagaimana menghapus program permainan tersebut dari komputer…. Anak-anak jauh lebih pandai dari orangtuanya jika terkait dengan teknologi terkini.
Untuk menghadapi situasi kalah pinter dibidang teknologi ini, maka saat saya menghapus program tersebut, saya meminta anak saya yang lain untuk mengajari cara menghapusnya…. Dan sukses terhapus….
Namun besoknya sudah di install kembali oleh mereka….. he he he

Rupanya apapun yang kita lakukan, jika kesadaran tidak muncul dari hati mereka, maka enggak sembuh-sembuh juga…

Akhirnya kami mengajak mereka untuk berbicara dari hati ke hati, tidak cuma anak yang sedang kecanduan game tersebut, tetapi kami mengajak beberapa anak sekaligus yang memang menyukai bermain game.
Sebelum bertemu mereka, saya kumpulkan dulu beberapa klipping majalah tentang GAME, majalah yang berisi berbagai ragam informasi tentang dunia Game. Ada review game terbaru, tips dan trik memenangkan sebuah permainan, berita seputar game, pengumuman lomba game, dll 

Saya memulai diskusi tentang permainan Game, dunia yang mereka sukai, dan saya katakan bahwa saya juga menyukai game seperti mereka juga. Ini saya maksudkan untuk membuka dan mendekatkan mereka pada jalan berpikir saya.

Lalu tahap berikutnya, saya bertanya cita-cita mereka masing-masing.
Setelah mereka menyebutkan cita-cita mereka masing-masing, maka saya mulai bertanya, apakah kalian sungguh-sungguh dengan cita-cita yang ingin diraih tersebut? Dan kira-kira, apa yang akan kalian lakukan untuk meraih cita-cita tersebut? Masing-masing dari mereka terdiam berpikir….

Lalu saya keluarkan berbagai klipping majalah Game dan bertanya pada mereka :
Saya :”Kalian tahu ini majalah apa?”
Mereka :”Majalah Game bi…”
Saya :”Siapa yang menulis berbagai artikel disitu?”
Mereka :”para wartawan dan kontributor bi …”
Saya :”Selain kemampuan menulis yang bagus, Apa syarat-syarat menjadi wartawan dan kontributor majalah Gamer?”
Mereka :”pandai main game bi…”
Saya :”berarti mereka pemain game professional?”
Mereka :”Betul bi…. Mereka harus pinter banget main game, sehingga menuliskan tips dan trik serta berbagai hal tentang game tersebut…bahkan ada juga yang pinter bikin program game”
Saya :”Penghasilannya besar nggak kalau jadi pemain game professional?”
Mereka :”Wah… besar bi itu duitnya…”
Saya :”… Nah, kalian semua khan senang dan pintar bermain Game,  adakah diantara kalian yang bercita-cita menjadi pemain game profesional?”
Mereka :”tidak bi….”
Saya :”Kenapa tidak ada yang mau jadi Pemain Game Profesional?”
Mereka terdiam…..
Saya :”Khan enak jadi Pemain Game Profesional…. Main Game tapi dibayar mahal sama orang…., setiap hari main Gameeee terus, dan dapat uang banyak dari main game tersebut”
Mereka tetap diam.
Saya :”… jadi nggak ada dari kalian yang mau jadi pemain game professional ya…?”
Mereka :”enggak bi… main game kalau terus-terusan sebetulnya capek bi…”
Saya :”Jadi kalian akan tetap dengan cita-cita yang sudah kalian sebutkan tadi?”
Mereka :”Iya bi….”
Saya:”kalau begitu, abi ingin kalian mengatur waktu kalian sendiri untuk meraih cita-cita yang kalian sebutkan tadi, lalu jadikan permainan game sebuah kegiatan yang bersifat ‘fun’, sekedar untuk melepas kejenuhan belajar kalian…. Bagaimana?”
Mereka :”baik bi…terimakasih sudah membuka pikiran kami”
Saya:”Abi juga terimakasih, kalian sudah mau mendengarkan dan berdialog dengan abi…”

Alhamdulillaah….
Setelah percakapan tersebut, mereka bisa mengatur waktu mereka sendiri untuk belajar, membantu orangtua dan bermain. Baik bermain bersama rekan-rekan mereka di Rohis, Pramuka, Naik Gunung, Liqo dan juga bermain game tentunya….

Dan diakhir semester, saya menemukan mereka bangga dengan prestasi akademik yang mereka peroleh dari hasil mereka berdoa dan berusaha….

7 tahun kemudian, saat mereka telah dewasa sepenuhnya, ternyata mereka masih tetap main Game di laptop mereka, bahkan ada yang membeli Laptop dengan kualifikasi khusus Gamer untuk memuaskan kegemarannya bermain game.  Lalu mereka bercerita pada saya bahwa ada kompetisi game DOTA (yang biasa mereka mainkan, tapi saya tak tahu itu game apa dan bagaiamana cara mainnya) yang diadakan secara internasional dengan hadiah bagi juara pertama adalah USD 16 JUTA yang bila di kurs dengan 1 USD = Rp 13500 maka senilai lebih dari Rp 21 Milyar. Welah…. Main game kok hadiahnya gede banget……

Tak masalah bila mereka tetap bermain game diwaktu-waktu senggang mereka, asalkan mereka tetap bersegera mendirikan shalat, tetap berdakwah sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki, tetap berusaha menghafalkan AL Quran  dan tetap bertanggungjawab kepada keluarga mereka,
Satu hal yang saya ingatkan pada mereka, bahwa generasi mereka akan lebih sulit mendidik anak-anak mereka karena godaan gadget makin berat.  Lalu generasi sesudah mereka akan lebih sulit lagi mendidik cucu-cucu mereka, karena godaan gadget yang lebih dahsyat lagi.

Semoga Allah swt selalu membimbing mereka.

“Ya Allah, jadikanlah aku dan anak keturunanku orang-orang yang mendirikan sholat,  Ya Allah, Engkaulah yang Maha Mengabulkan Permintaan”
Aamiin

Beberapa hikmah :
1.     Diskusi dan mengantarkan mereka menemukan kesadaran mereka sendiri mungkin lebih efektif daripada marah-marah dan menasehati mereka panjang lebar.
2.     Ketika kita tidak bisa mendapatkan semuanya, maka jangan tinggalkan semuanya.

3.     Selalu mendoakan anak-anak agar mereka selalu dalam kebaikan dan hidayah Allah swt.

0 comments:

Post a Comment